Rumah Nuansa Alam Impian Warga Jakarta

 

KETIKA beberapa tukang kayu akhirnya menuntaskan pekerjaan bale bengong Ayu Laksmita memandang bangunan kecil itu dengan wajah puas. Ia dan suaminya, Johannes Kitono, akhirnya meraih impian memiliki sebuah rumah dengan nuansa Bali yang pekat.BALE bengong atau gazebo adalah bagian dari gaya arsitektur Bali yang berfungsi sebagai ruang informal, tempat menunggu atau tempat rileks.Wanita yang bekerja di lembaga pemeriksa keuangan ini menyukai nuansa Bali, bukan hanya karena ia memang orang Bali, melainkan karena kekagumannya pada gaya arsitektur Bali yang menawan. Kebetulan, suami dan tiga anaknya juga mempunyai selera yang sama. “Rumah ini menjadi impian kami semua, sejak tujuh tahun silam” sebut Ayu di Jakarta, Kamis (14/8).Tatkala hendak membangun rumah itu tahun lalu, Ayu dan Kitono bersepakat, rumah tersebut harus merefleksikan ketangguhan (sehingga bisa bertahan ratusan tahun), estetika dan kedekatan pada alam. Maka ketika memilih arsitek, suami istri ini langsung menekankan tiga tema tersebut.AYU dan Kitono serius dengan pendekatan tiga tema besar itu. Keseriusan tampak dari ketekunan mereka mencari batu-batu alam di beberapa provinsi, mencari lokasi penjualan kayu jati, perabot dari eceng gondok, furniture dari batang dan batok kelapa, serta atap-atap khas Bali.Arsitek dan para tukang, berjalan seirama dengan pemilik rumah. Keseriusan mereka tampak pada hasil pekerjaan detail rumah. Gerbang, tangga, lantai, dinding, hingga ke aksesori dikerjakan cukup mulus. Gerbang masuk, yang bermain dengan dinding agak tinggi, misalnya, mirip dengan beberapa rumah pemerhati seni di Ubud dan Umalas. Bale bengong dan kolam renang, dalam versi lebih kecil, juga mirip dengan bale bengong di pulau dewata itu.Rumah ini dilengkapi pula dengan warna khas yang disukai banyak warga Bali, misalnya pada warna kusen pintu dan jalusi yang dominan warna merah kecoklatan. Atau warna dinding yang dominan warna terang. Lantai marmer, apa boleh buat, tidak ia peroleh dari Bali, tetapi ia dapatkan dari Makassar.Lubang angin yang dikerjakan, cukup rapi, dan dalam jumlah yang cukup banyak. Ayu dan Kitono, agaknya benar-benar ingin dekat dengan alam. Oleh karena itu, meski langit-langit rumah, terutama di ruang tengah, mencapai hampir 20 meter, mereka tetap saja melubangi belasan bagian dinding untuk lubang angin.”Kami benar-benar ingin angin alam, bukan AC, sehingga meski langit-langit sudah tinggi, kami tetap menggunakan lubang angin belasan buah” tutur Ayu.Demikian sukanya pada alam sehingga lukisan yang dipajang di rumah ini seluruhnya dengan pendekatan alam. Ada lukisan hutan, sawah, padang rumput, dan sebagainya.Apakah seluruh bangunan memenuhi harapan pemilik rumah?Ayu Laksmi dan Kitono tertawa, dan kemudian dengan terus terang menyatakan tidak sepenuhnya. Disebut demikian karena pada kenyataannya mereka hanya bisa memenuhi sekitar 80 persen keinginan melahirkan nuansa Bali dan dekat dengan alam.Kalau ingin dekat dengan alam, kami harus menanam sebanyak mungkin pohon-bukan sekadar menggunakan perabotan dari alam, misalnya eceng godong, batok, dan batang kelapa. Namun, kenyataannya kami tidak bisa menanam lebih banyak pohon tinggi sebab lahan memang terbatas (500 meter).Jika hendak dekat dengan alam, kami tidak menggunakan pintu yang ditutupi kawat halus penahan nyamuk. Aslinya, di Bali, memang tidak menggunakan pintu seperti itu, dan kalau takut nyamuk, tilam menggunakan kelambu halus.”Soal ini, sampai menimbulkan perdebatan lama dengan istri. Istri saya ingin pintu tidak seperti itu, dan ngotot menggunakan pintu tanpa kawat kasa itu. Tetapi, saya (sambil tertawa terbahak-bahak-Red) bilang begini, sepanjang pemerintah tidak pernah mengeluarkan jaminan bebas demam berdarah di Indonesia, pintu itu tetap pakai kawat kasa. Saya suka alam, tetapi nyamuk penyebab demam berdarah nyebelin banget. Akhirnya istri saya bisa mengerti dan mengalah,” tutur Kitono.Masih banyak hal, di mana keluarga ini akhirnya mesti mengambil langkah kompromi. Ayu Laksmita, misalnya, menyatakan, ia dan suaminya menyukai kamar mandi ala Bali yang terbuka dan dekat dengan pohon. Namun, itu tidak bisa dilakukan karena masalah keamanan dan privacy.Atau kolam renang, misalnya, mestinya menggunakan dinding dan lantai dari batu alam. Namun, hal ini toh tidak dapat ia lakukan karena alam di Jakarta berbeda dengan di Bali.Di sini, tutur Ayu, ia tidak tahu mengapa, batu alam demikian gampang berlumut sehingga sulit merawatnya. Akan tetapi di Bali, batu alam itu tidak mudah berlumut. Dan kalaupun berlumut, mudah dibersihkan.”Kompromi lain, di sisi kolam renang, di kampung saya, biasanya ditanami pohon kamboja. Tetapi suami saya kurang suka. Kami berdebat, tetapi akhirnya saya mengalah. Tidak ada pohon kamboja di dekat kolam renang,” tutur Ayu.Namun, baik Kitono maupun Ayu menyatakan, meski dengan segala kompromi itu, mereka toh happy, sebab setidaknya 80 persen dari nuansa rumah Bali dapat mereka raih. Hal lain, mereka pun merasa sangat at home di rumah itu. “Ini memang Jakarta, ya, keadaan itu mesti dapat diterima,” ujar Kitono. (AS).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: